Tungku Pembakaran

Furnace atau juga sering disebut dengan tungku pembakaran adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk pemanasan. Nama itu berasal dari bahasa latin Fornax, oven. Kadang-kadang orang juga menyebutnya dengan kiln.

Furnace sendiri sering di analogikan dengan furnace sebagai keperluan industri yang digunakan untuk banyak hal, seperti pembuatan keramik, ekstraksi logam dari bijih (smelting) atau di kilang minyak dan pabrik kimia lainnya, misalnya sebagai sumber panas untuk kolom distilasi fraksional.

Adapun bahan bakar yang paling umum untuk furnace modern adalah gas alam, termasuk LPG (liquefied petroleum gas), bahan bakar minyak, batu bara atau kayu. Dalam beberapa kasus pemanasan resistensi listrik juga sering digunakan sebagai sumber panas, jika saja biaya listriknya rendah.

Hampir seluruh furnace menggunakan bahan bakar cair, bahan bakar gas atau listrik sebagaimasukan energinya.

Furnace induksi dan busur/arc menggunakan listrik untuk melelehkan baja dan besi tuang.
Furnace pelelehan untuk bahan baku bukan besi menggunakan bahan bakar minyak.

Furnace yang dibakar dengan minyak bakar hampir seluruhnya menggunakan minyak furnace, terutama untuk pemanasan kembali dan perlakuan panas bahan.

Minyak diesel ringan (LDO) digunakan dalam furnace bila tidak dikehendaki adanya sulfur.Idealnya furnace harus memanaskan bahan sebanyak mungkin sampai mencapai suhu yangseragam dengan bahan bakar dan buruh sesedikit mungkin. Kunci dari operasi furnace yangefisien terletak pada pembakaran bahan bakar yang sempurna dengan udara berlebih yangminim. Furnace beroperasi dengan efisiensi yang relatif rendah (serendah 7 persen) dibandingkandengan peralatan pembakaran lainnya seperti boiler (dengan efisiensi lebih dari 90 persen). Halini disebabkan oleh suhu operasi yang tinggi dalam furnace. Sebagai contoh, sebuah furnace yang memanaskan bahan sampai suhu 1200 Deg.C akan mengemisikan gas buang pada suhu 1200 Deg.C atau lebih yang mengakibatkan kehilangan panas yang cukup signifikan melalui cerobong.

Dimensi furnace dan kemampuan menghasilkan panasnya dapat ditentukan berdasarkan perhitungan sesuai fungsi dan kebutuhannya. Misalkan furnace untuk kebutuhan pembangkit listrik sudah barang tentu memerlukan dimensi yang besar. Karena untuk menghasilkan uap melalui boiler diperlukan energi panas yang besar pula.

Material furnace juga ditentukan sesuai dengan kebutuhan dan energi apa yang akan digunakannya. Bisa menggunakan dinding terbuat dari plat ss dengan isolasi ceramic fiber, atau menggunakan dinding bata tahan api. Semuanya tergantung sesuai aplikasinya.

Furnace secara luas dibagi menjadi dua jenis berdasarkan metoda pembangkitan panasnya: furnace pembakaran yang menggunakan bahan bakar, dan furnace listrik yang menggunakan listrik. Furnace pembakaran dapat digolongkan menjadi beberapa bagian, jenis bahan bakar yang digunakan, cara pemuatan bahan baku, cara perpindahan panasnya dan cara pemanfaatan kembali limbah panasnya. Tetapi, dalam prakteknya tidak mungkin menggunakan penggolongan ini sebab furnace dapat menggunakan berbagai jenis bahan bakar, cara pemuatan bahan ke furnace yang berbeda.

Share this info